2026-08-12
HaiPress

DEPOK, iDoPress - Kampung Bulak Barat, Kelurahan Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, yang selama hampir empat tahun dilanda banjir, kini mulai mengering.
Berdasarkan pantauan iDoPress, masih terdapat beberapa titik cekung yang tergenang air. Namun, lahan yang sebelumnya selalu terendam kini mulai mengering, memperlihatkan tanah lembek yang dipenuhi sampah.
Seiring surutnya banjir, terlihat pula aktivitas pembakaran sampah yang diduga dilakukan oleh salah seorang warga sekitar.
Rumah dan ruko yang sebelumnya berdiri di lokasi tersebut kini telah dirubuhkan sehingga menyisakan lahan kosong yang cukup luas.
Di kejauhan, tampak gunungan sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.
Di lokasi juga terlihat dua alat berat terparkir setelah digunakan untuk mengeruk tanah di Kali Pesanggrahan sebagai bagian dari upaya normalisasi sungai.
Ketua RT 04 RW 08 Bulak Barat, Effendi, mengatakan genangan di wilayah tersebut mulai surut sekitar lima bulan lalu. Menurut dia, kondisi itu dipengaruhi musim kemarau serta upaya normalisasi sungai yang dilakukan Pemerintah Kota Depok.
Kondisi tersebut membuat warga Kampung Bulak Barat mulai dapat beraktivitas lebih leluasa, meski akses jembatan menuju Kelurahan Pasir Putih masih belum dapat dilalui seperti sebelumnya.
"Sekarang ini alhamdulillahnya ya sudah (surut), termasuknya mungkin apa karena bulan kemarau dan pemerintah kota juga antisipasi jangan sampai kebanjiran jadi ada pengerukan lah," ujar Effendi saat ditemui, Rabu (12/8/2026).
Menurut Effendi, Pemkot Depok kini melakukan pengerukan kali untuk mengantisipasi banjir kembali terjadi. Pengerukan dilakukan di sejumlah titik menggunakan beberapa alat berat.
"Jadi sekarang ini hampir setiap titik diadakan pengerukan. Jadi semua yang ada di Kelurahan Cipayung itu, kali-kali yang kecil itu," ucapnya.
Effendi menyebut banjir di kawasan tersebut mulai terjadi sekitar 2022, tepatnya setelah pandemi Covid-19. Namun, saat itu banjir hanya terjadi sesekali dan jembatan penghubung ke Kelurahan Pasir Putih masih dapat dilalui warga.
Kondisi kemudian semakin parah setelah terjadi sumbatan di sekitar area TPA Cipayung yang membuat aliran kali tidak lancar. Menurut Effendi, hal itu terjadi sekitar setahun terakhir setelah terjadi longsor di TPA Cipayung.
"Penyebabnya satu, masyarakat buang sampah sembarangan. Kedua, memang TPA itu kan waktu itu ada tanggul yang longsor. Awalnya itu, jadi tersumbat saja. Ini mungkin kalau namanya nggak kesumbat kayak gitu, mungkin nggak kejadian kayak gini," jelasnya.
Banjir tersebut juga berdampak pada akses warga. Jalan di Kampung Bulak Barat merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Kelurahan Cipayung dan Kelurahan Pasir Putih. Akibatnya, warga harus memutar melalui kawasan Tanah Merah dan Kampung Benda Barat.