2026-08-06
HaiPress

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
BEBERAPA hari ini, ruang publik dan jagat maya Indonesia diramaikan perdebatan pascaviralnya komentar tenaga kesehatan terhadap unggahan seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan yang mengeluhkan lamanya transit di IGD, yang kemudian diberitakan meninggal dunia.
Sebagian masyarakat menganggap komentar bernada sinis dari sang dokter sebagai bukti hilangnya empati profesi kedokteran.
Namun di sisi lain, banyak dokter dan tenaga kesehatan lainnya terpantik untuk ikut menyuarakan betapa profesi mereka seperti sedang dihakimi tanpa mempertimbangkan tekanan sistem pelayanan yang setiap hari mereka hadapi.
Di tengah derasnya opini, satu hal justru hampir tidak dibahas secara serius, yakni mengapa sejak awal profesi kedokteran memang menempatkan komunikasi sebagai persoalan etik yang sama pentingnya dengan kompetensi klinis.
Ini bukan sekadar apakah seorang dokter boleh menyampaikan kritik atau meluapkan frustrasi, melainkan mengapa dokter di seluruh dunia dituntut menjaga cara berbicara bahkan ketika berada di luar ruang praktik.
Jawabannya berakar pada konsep sangat mendasar dalam ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat, yaitu kepercayaan merupakan bagian dari intervensi medis.
Hubungan dokter dan pasien tidak pernah dibangun hanya di atas ilmu pengetahuan, melainkan juga di atas trust atau rasa percaya.
Seorang pasien datang ke rumah sakit bukan hanya menyerahkan hasil laboratorium atau melaporkan daftar keluhan, tetapi juga membawa rasa takut, ketidakpastian, kerentanan, dan sering kali kecemasan hidupnya mungkin tidak akan sama lagi setelah hari itu.
Dalam kondisi seperti ini, pasien mempercayakan tubuh, rahasia, bahkan keputusan-keputusan paling penting dalam hidupnya kepada seseorang yang baru dikenalnya beberapa menit.
Hampir tidak ada profesi lain yang menerima tingkat kepercayaan sosial sebesar itu.
Karena itulah, komunikasi seorang dokter tidak pernah dipandang sebagai komunikasi biasa, melainkan setiap kata diucapkan dokter memiliki bobot profesional, psikologis, dan bahkan klinis.
Telaah sistematis menunjukkan, komunikasi empatik berhubungan dengan meningkatnya kepuasan pasien serta kepatuhan terhadap terapi.
Pasien yang merasa didengar cenderung lebih terbuka untuk menjelaskan gejalanya, lebih percaya terhadap rekomendasi medis, dan lebih konsisten menjalankan pengobatan.
Sebaliknya, pasien yang tidak merasa dilibatkan dalam perbincangan aktif lebih mungkin menunda mencari pertolongan, menyembunyikan informasi penting, atau kehilangan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.
Dengan kata lain, empati bukan aksesori yang mempermanis pelayanan, melainkan salah satu determinan mutu pelayanan kesehatan itu sendiri.