Perjuangan Pur 20 Tahun Berdagang Es Kado Legendaris, Raup Omzet 6 Juta Per Bulan

2026-07-09 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Di tengah gempuran es krim kekinian yang terus bermunculan, pria asal Cilincing, Jakarta Utara, bernama Pur (50) masih setia mengayuh gerobak es kado legendarisnya.

Hampir 20 tahun lamanya, Pur rutin menyusuri setiap gang di Cilincing dari pukul 10.30 WIB hingga 18.00 WIB.

Bermodalkan klakson terompet yang menempel di gerobak kayunya, Pur berharap anak-anak hingga warga lain keluar dari rumah dan membeli es kadonya.

Hal itu terbukti ketika Pur melintas di kawasan Kalibaru, tepatnya di samping Kolam Retensi Cilincing.

Suara klakson terompet dari gerobak es kado itu langsung menarik perhatian anak-anak yang sedang bermain bersama.

Beberapa anak langsung sigap mengeluarkan uang dari sakunya dan mendekati gerobak es kado Pur.

Sementara beberapa anak lainnya memilih pulang ke rumah terlebih dahulu untuk meminta uang kepada orangtuanya.

Dalam sekejap, gerobak itu langsung dikerubungi anak-anak yang berebut untuk dilayani lebih dulu.

"Saya bang, saya dulu bang rasa stroberi," teriak anak-anak tersebut yang saling bersahutan di lokasi, Rabu (8/7/2026).

Anak-anak tersebut membeli es kado sesuai kemampuan mereka, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000.

Berapa pun nominal pembelian mereka, pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu selalu melayani dengan penuh senyuman.

Bukan hanya anak-anak, pembeli es kado Pur juga banyak berasal dari kalangan orang dewasa.

"Banyak juga yang orang dewasa beli, karena kan ini buat cuci mulut aja," jelas dia.

Berusaha ikuti selera pasar

Pur mengaku, berdagang jajanan tradisional memang tidaklah mudah di tengah gempuran es krim atau dessert kekinian.

Meski merupakan jajanan tradisional, Pur berusaha mengikuti selera pasar agar es kadonya tetap diminati.

Jika dahulu hanya tersedia varian rasa stroberi, kacang hijau, dan cokelat, kini Pur menambah varian rasa buah-buahan seperti durian.

Rasa durian inilah yang paling banyak disukai orang dewasa karena menggunakan buah asli, bukan sekadar perasa.

Pur bilang, meski mengikuti selera pasar, ia berusaha mempertahankan unsur tradisional dari es tersebut.

Mulai dari bahan-bahan yang digunakan, seperti santan agar tetap gurih, tepung hunkue, dan bahan lainnya.

Selain itu, proses pembuatannya juga masih menggunakan cara tradisional, yakni santan diaduk bersama tepung menggunakan kayu.

Setelah tercampur rata, adonan tersebut kemudian dicampurkan dengan buah asli, seperti durian atau bahan lainnya.

Selanjutnya, adonan dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk persegi panjang pipih berukuran sekitar 22 sentimeter.

Dalam satu hari, Pur bisa membuat sekitar 15 hingga 16 loyang es kado yang kemudian dijual dalam bentuk potongan-potongan.

Setelah dicetak, es kado dibekukan. Setelah mengeras, es dikeluarkan dari cetakan lalu dibungkus menggunakan kertas kado bermotif batik.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.