2026-05-21
HaiPress


JAKARTA, iDoPress - Pekerjaan membersihkan kaca gedung tinggi menjadi salah satu profesi yang nyaris tak pernah benar-benar terlihat di tengah hiruk-pikuk kota besar.
Di balik deretan gedung pencakar langit yang tampak mengilap, ada pekerja yang menggantungkan tubuhnya di sisi bangunan puluhan lantai demi menjaga kaca tetap bersih.
Para pekerja itu datang sejak pagi, membawa perlengkapan keselamatan yang berat dan lengkap.
Saat ditemui iDoPress di Gedung BPH Migas, Tandean, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026), sejumlah pekerja tampak mempersiapkan alat sebelum turun dari atap gedung.
Mereka mengenakan helm safety(helm proyek) penguntuk melindungi kepala, serta full body harness(sistem tali pengaman) yang terpasang di tubuh sebagai pengaman utama saat bergantung di sisi gedung.
Pada harness(tali kekang) tersebut juga terpasang sejumlah alat pendukung seperti carabiner, descender, ascender, dan pengait logam yang berfungsi mengatur pergerakan naik-turun di tali sekaligus menjaga kestabilan pekerja saat bekerja di udara.
Selain perlengkapan utama, mereka juga membawa tali pengaman, sarung tangan, hingga sepatu khusus anti-slip untuk mengurangi risiko terpeleset.
Beberapa pekerja tampak mengenakan kacamata pelindung dan penutup wajah guna melindungi diri dari debu, terpaan angin, maupun panas matahari.
Saat bekerja, para pembersih kaca gedung tinggi mengandalkan sistem tali pengaman yang terhubung ke harness di tubuh mereka untuk bergerak naik dan turun di sisi gedung.
Dengan bantuan alat pengait dan pengontrol tali, mereka membersihkan kaca sambil menjaga keseimbangan tubuh di tengah terpaan angin dan ketinggian puluhan lantai.
Mereka bekerja secara freelance di bawah PT Moramon, perusahaan yang bergerak di bidang general contractor, supplier dan trading, konstruksi, desain interior, hingga building maintenance.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu tampak ekstrem dan menegangkan. Namun bagi Fajar Maulana (27), pekerjaan tersebut justru menjadi tantangan yang ingin dijalani sejak lama.
“Awalnya saya kerja di bidang lain sebelum jadi rope access (tenaga kerja pada ketinggian). Saya lihat pekerjaan ini lebih menantang, jadi saya tertarik buat jadi rope access dan Alhamdulillah langsung dapat kesempatan,” kata Fajar saat ditemui iDoPress.
Fajar mengaku dirinya memang menyukai tantangan. Meski demikian, rasa takut tetap muncul ketika pertama kali bekerja di ketinggian.
“Awalnya takut, karena manusia pasti takut saat belajar. Tapi lama-lama terbiasa jadi lebih berani, apalagi sudah kenal SOP dan alat-alatnya,” ujar dia.
Selama sekitar tujuh tahun bekerja, Fajar sudah menangani berbagai gedung tinggi di Jakarta hingga luar pulau.
Salah satu gedung tertinggi yang pernah ia tangani mencapai sekitar 257 meter atau 72 lantai.
Meski telah terbiasa bekerja di ketinggian, kondisi cuaca tetap menjadi tantangan yang paling diwaspadai.
“Kalau hujan tiba-tiba, biasanya langsung turun kalau memungkinkan. Kalau sudah telanjur di tengah pekerjaan, itu yang agak susah karena turun juga enggak gampang,” kata Fajar.
Sebelum mulai bekerja, para pekerja biasanya melakukan briefing pagi dan pemeriksaan alat secara berulang untuk memastikan seluruh perlengkapan aman digunakan.
“Briefing pagi, doa masing-masing, lalu cek alat dua kali sebelum mulai kerja,” ujar Fajar.
Ia mengatakan, pekerjaan rope access tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kestabilan emosi dan fokus penuh selama bekerja.
“Biasanya saya diam saja kalau ada masalah pribadi. Karena pekerjaan ini berkaitan dengan emosi, jadi harus tetap stabil saat turun,” tutur dia.
Fajar mengatakan, salah satu kondisi paling menegangkan saat bekerja ialah ketika menghadapi bentuk gedung yang tidak rata atau overhang.
“Biasanya kalau kondisi gedung overhang, jadi bentuk bangunannya menjorok dan enggak rata. Itu yang bikin takut,” katanya.
Selain faktor medan bangunan, pekerja juga harus mempelajari titik anchor atau titik pengaman sebelum turun dari atas gedung.
Dalam satu tim, pekerjaan pembersihan gedung tinggi umumnya dilakukan minimal empat orang. Lama pengerjaan pun bergantung pada tinggi dan luas bangunan.
“Kalau lima lantai mungkin sejam selesai. Tapi kalau gedung 72 lantai bisa tiga hari untuk satu jalur,” ujar dia.
Menurut Fajar, kerak air dan cipratan hujan menjadi salah satu kotoran paling sulit dibersihkan dibanding lumut.
Di balik risiko pekerjaan yang tinggi, Fajar mengaku penghasilan menjadi salah satu alasan dirinya bertahan di profesi tersebut.
“Kalau yang sudah berpengalaman bisa Rp 15 juta ke atas. Yang sudah puluhan tahun bisa lebih lagi,” ujar dia.
Meski begitu, ia mengatakan, tidak semua orang mampu bertahan di pekerjaan ini. Beberapa rekannya memilih berhenti setelah berkeluarga dan memiliki anak.
“Ada yang berhenti karena sudah punya istri dan anak, jadi pilih pekerjaan lain yang dianggap lebih aman,” katanya.
Fajar sendiri mengaku sempat mendapat pertanyaan dari keluarga ketika memutuskan bekerja sebagai pembersih kaca gedung tinggi.
“Awalnya sempat tanya, ‘Enggak ada kerjaan lain?’ Tapi saya jelaskan kalau pekerjaan ini memang menghasilkan,” kata dia.
Ia bahkan kerap mengirim video pekerjaannya kepada keluarga untuk menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut tetap memiliki standar keselamatan.
iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sejumlah petugas pembersih kaca di Gedung BPH Migas, Tandean, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).Dari Bengkel hingga Bergantung di Gedung Tinggi