2026-04-22
HaiPress

JAKARTA, iDoPress – Fathan (27) masih ingat betul masa ketika Pasar Santa berada di puncak kejayaannya.
Kedai kopi kecil miliknya di lantai dua, yang dibuka sejak 2016, pernah menjadi bagian dari denyut “creative hub” anak muda Jakarta Selatan.
Saat itu, lorong-lorong Pasar Santa nyaris tak pernah sepi. Kursi-kursi selalu terisi, antrean kopi mengular, dan pengunjung datang bukan hanya untuk minum, melainkan juga untuk menikmati suasana.
“Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, bahkan lebih kalau ada event atau weekend panjang,” kata Fathan saat ditemui iDoPress, Selasa (21/4/2026).
Namun, cerita itu kini tinggal nostalgia. Dalam beberapa tahun terakhir, Fathan merasakan penurunan tajam, bukan hanya dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari perubahan perilaku mereka.
“Sekarang rata-rata harian itu di Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi,” ujar dia.
Ia mengatakan, anak muda yang dulu bisa duduk lama, mengobrol, atau bahkan bekerja dengan laptop di kedainya, kini cenderung singgah sebentar lalu pergi.
Ritme perputaran pengunjung menjadi jauh lebih cepat.
“Sekarang orang datang lebih cepat, tidak lama duduk. Jadi turnover juga beda. Dulu bisa nongkrong lama, sekarang cepat datang cepat pergi,” jelas dia.
Bagi Fathan, sepinya Pasar Santa tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar ekosistem tempat nongkrong di Jakarta Selatan.
Jika dulu Pasar Santa dianggap unik dan berbeda, kini kota menawarkan terlalu banyak alternatif yang lebih modern dan rapi.
“Sekarang sudah banyak pilihan, coffee shop standalone, mal baru, tempat yang lebih rapi, lebih nyaman, lebih konsisten branding-nya,” tutur dia.
Ia juga menilai Pasar Santa kehilangan kekuatan utamanya, yakni identitas yang dulu dibangun lewat seleksi tenant.
Menurut Fathan, dahulu konsep tenant terasa jelas—kopi, vinyl, thrift, zine, dan ruang kreatif yang saling melengkapi. Kini, komposisinya campur aduk.
Fathan menambahkan, media sosial ikut memengaruhi dinamika tersebut. Pasar Santa pernah hidup karena viralitas, namun viralitas juga membuat orang mudah berpindah ketika tren bergeser.
“Dulu viralnya kuat. Sekarang viral pindah-pindah. Ada tempat baru, semua pindah ke sana,” ucap dia.
Meski demikian, ia belum sepenuhnya pesimistis. Ia percaya Pasar Santa masih memiliki peluang jika ada upaya pembaruan konsep yang serius.
“Kalau ada rebranding yang serius, masih bisa hidup lagi. Lokasi ini sebenarnya masih strategis,” ujar Fathan.
Tidak jauh dari kios Fathan, Theo (28) juga merasakan hal yang sama. Penjual kaos dan barang thrift yang membuka kios sejak 2017 itu menyebut Pasar Santa kini jauh dari kata ramai.
Ia menjadi salah satu pedagang yang mengalami langsung naik-turunnya tren tempat tersebut.
“Dulu itu saya bisa dapat Rp 800.000 sampai Rp 1,5 juta sehari, terutama kalau weekend. Anak-anak datang memang buat cari barang unik,” kata Theo.
Namun, pendapatan itu kini sulit ia bayangkan kembali. Menurutnya, hari ini omzet Rp 200 ribu saja sudah termasuk bagus.
“Sekarang kadang Rp 200.000 sampai Rp 400.000 sehari sudah bagus. Bahkan pernah juga cuma Rp 100.000 lebih,” ujar dia.
Theo menilai penurunan pengunjung terjadi secara perlahan, bukan mendadak. Ia merasakan masa setelah pandemi sempat memberi harapan, tetapi kemudian terus menurun.
Ia melihat perubahan perilaku belanja anak muda ikut memukul pedagang seperti dirinya. Thrift yang dulu identik dengan berburu langsung kini banyak berpindah ke platform digital.
“Sekarang thrift juga banyak online. Jadi orang tidak perlu datang langsung. Mereka tinggal scroll, pilih, bayar,” ujar dia.
Namun, Theo menyebut masalah terbesar bukan sekadar online atau offline. Ia menilai Pasar Santa kehilangan magnet utamanya karena tidak ada satu hal yang benar-benar menonjol sebagai alasan orang datang.
“Dulu orang datang karena sudah tahu, ini tempatnya anak kreatif. Sekarang enggak ada satu hal yang benar-benar jadi magnet,” ucap Theo.
Theo juga menyinggung dampak kios kosong yang membuat suasana semakin tidak menarik. Menurutnya, pengunjung yang naik ke lantai atas sering langsung kehilangan minat ketika melihat banyak pintu kios tertutup.
Ia mengaku masih bertahan karena biaya operasional relatif rendah, tetapi tidak lagi melihat Pasar Santa sebagai tempat berkembang.
“Saya masih bisa nutup biaya, tapi sudah bukan tempat untuk tumbuh lagi. Lebih ke bertahan,” kata Theo.
Kondisi serupa juga dirasakan Warni (52), pedagang perlengkapan plastik rumah tangga di lantai dasar yang sudah berjualan sejak 2010.
Ia menyaksikan sendiri perubahan Pasar Santa sejak masih menjadi pasar biasa hingga sempat menjadi ikon nongkrong anak muda.
“Dulu awal saya jualan di sini masih ramai banget. Orang keluar masuk terus, jadi ikut keangkat juga jualan di bawah,” kata Warni saat ditemui di kiosnya.
Warni menyebut periode 2014 hingga sebelum pandemi sebagai masa yang paling terasa dampaknya bagi seluruh lantai pasar.
Meski tenant kreatif banyak berada di atas, efek keramaiannya ikut menular ke pedagang kebutuhan rumah tangga di bawah.
“Sekitar 2014 sampai sebelum pandemi itu kerasa banget. Banyak anak muda datang, naik ke atas, tapi yang di bawah juga ikut ramai,” ujar dia.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ritme pasar terasa melambat. Pengunjung tetap ada, tetapi tidak lagi ramai dan cenderung datang dengan tujuan cepat.
Warni mengatakan pendapatannya turun secara bertahap.
“Kalau dulu bisa Rp 500.000 sampai Rp 800.000 sehari, sekarang paling sering Rp 200.000 sampai Rp 400.000. Kadang kalau lagi sepi banget ya di bawah itu,” ujar dia.